Menikah, Yaiks!

27 07 2006

Bukan, saya bukanlah orang yang antipati terhadap suatu pernikahan. Saya juga bukan seorang yang takut akan komitmen. Judul diatas saya gunakan sebagai bentuk ekspresi suatu pernikahan yang saya rasa penuh dengan aneka sensasi rasa. Saya sependapat dengan kalimat dalam aneka peraturan yang ada di Indonesia yang mengategorikan bahwa orang yang sudah menikah sebagai orang yang sudah dewasa. Mengambil keputusan untuk menikah membutuhkan keberanian yang menyedot nyali. Salut untuk mereka yang telah menikah!

 

Melihat, dan menghadiri aneka pesta pernikahan teman-teman (yang mayoritas membutuhkan biaya besar) membuat hati kecil saya bertarung bebas. Di satu sisi, saya ingin sekali mengakhiri masa pacaran saya (can you believe it? It almost 8th year.) dan menginjak satu tahap kedewasaan lainnya, yaitu menikah dan membentuk suatu keluarga. Di sisi lain hati kecil saya bertanya, cukupkah materi yang saya siapkan selama ini untuk menyiapkan sebuah pesta pernikahan. Minder hati ini kalau menghadiri pesta besar yang diadakan setiap teman saya yang menikah.

 

Tidak hanya itu, sensasi lain yang pasti akan dirasakan oleh setiap orang yang akan menikah adalah sensasi ketika ia akan memohon restu kepada orang tua untuk menikah. Saya punya rekan kerja yang tidak pernah mau atau setidaknya berat hati untuk kerja lembur di hari sabtu. Hal ini disebabkan selain ia harus pulang kampung ke Bandung untuk mengurusi usaha konveksinya, juga untuk menemui kekasihnya yang cuma bisa dijumpai seminggu sekali. Hari sabtu ia sudah resah karena kekasihnya kecewa ia kerja lembur. Hal ini memaksanya untuk pulang lembur lebih awal dan segera pulang ke Bandung. Tak di sangka ternyata pada hari minggu malamnya (2 Juli 2006, red) ia berani untuk meminta restu kepada orang tuanya untuk menikah. Saya tidak menyangka kalau itu adalah waktu yang sama untuk saya.

 

Ia menceritakan bahwa semua hal yang direncanakan tidaklah sesuai dengan yang diucapkannya di depan kedua orang tuanya. Cuma kalimat “Pak, Nikah!” yang mampu terucap dari bibirnya. Ia bilang semua badan bereaksi, gemetar dan keringat dingin ikut hadir (semoga saya tidak terlalu berlebihan, red.). Saya mengerti dengan apa yang dirasakannya, karena (kebetulan) pada waktu yang sama pun saya sedang bingung memikirkan bagaimana caranya menyampaikan keinginan saya untuk menikah kepada orang tua saya.

 

Berbagai perbincangan saya mulai, ngalor ngidul kesana kemari, guna memancing sebuah pembicaraan yang terfokus kepada suatu pernikahan. Sudah sejam lebih saya dan orang tua saya berbincang, tapi saya masih belum merasa bahwa ini adalah waktu yang pas (atau belum berani,red.) untuk mengutarakan keinginan saya. Semakin lama pembicaraan terjadi, semakin tidak fokus pikiran saya, yang saya pikirkan cuma “bagaimana caranya mengutarakan keinginan untuk menikah?”. Silakan, anda boleh menganggap saya seorang yang penuh basa-basi, tapi saya yakin seratus satu persen bahwa anda pun akan mengalami sensasi yang sama. Setelah hampir dua jam berbincang aneka pembicaraan, akhirnya keberaniaan saya terkumpul untuk mengutarakan keinginan saya (atau tepatnya keinginan kami—saya dan kekasih) untuk menikah. Tidak banyak reaksi yang saya dapatkan dari orang tua saya. Tampak dari raut muka mereka bahwa mereka memaklumi kondisi ini (mengingat umur saya yang sudah cukup). Tapi mungkin dalam hati mereka berpikir “wah, harus mulai nabung nih!”. Hal itu yang mungkin membuat mereka menjadi berhati-hati dalam bereaksi. Yah, setidaknya proposal sudah saya ajukan. Sekarang tugas selanjutnya adalah mem-follow up proposal tadi agar acara tetap berjalan. Saya sudah lega karena keinginan saya sudah saya utarakan. Tidak sabar rasanya untuk merasakan sensasi selanjutnya dari rangkaian proses pernikahan. (Ulil)

 

Quotes of the Day:

“Tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk mengambil keputusan, yang ada hanyalah keberanian untuk mengambil keputusan.”

(Juli 2006, Ulil Nurasatya)


Aksi

Information

One response

20 10 2008
YusroNieka

“Tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk mengambil keputusan, yang ada hanyalah keberanian untuk mengambil keputusan.”

hmm, begitu menjadi Inspirasi, trims Bro, Pengen deh Kenal Ma Luw,, mungkin bisa sharing brbagai macam Hal… hehe
TheAkang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: