Melebur Dua Keluarga dengan Cinta (Judul yang Dangdut abiizz!)

28 02 2007

Dua keluarga. Dekat tapi belum. Jauh tapi tidak. Biasanya cuma bertemu sapa lewat telepon. Saling kirim buah tangan. Jangankan sifat masing-masing keluarga. Bentuk mukanya saja belum ada yang saling tahu. Paling banter saling manggut-manggut dari kejauhan sambil menebar senyum. Aneh, tapi begitulah hubungan keluarga kami selama 8 tahun ini. Silaturahmi berjalan baik. Tanpa diiringi tatap muka. Hari ini, 24 Februari 2007. Sepuluh hari setelah “lamaran” On Air. Dua keluarga inti akhirnya bertemu. Begini ceritanya, toweng-toweng-toweng (jadi inget zamannya serial Kismis-Kisah Misteri-di RCTI)

Ulang tahun kantor. 95 tahun lamanya perusahaan tempat saya bekerja berdiri. Minggu-minggu, disaat perusahaan berpesta, saya masih di depan komputer kantor. Ada tugas yang harus dilaksanakan. Sambil download sana download sini tentunya. Hehehe. Pukul 16.45 baru bisa keluar kantor. Saya lelah. Tujuh hari dalam seminggu. But the show must go on. Sudah janji dengan keluarganya kalau kami akan datang selepas Maghrib.

Saya harus tidur dulu! Teriak badan saya yang lelah kala itu. Saya masih punya waktu setengah jam sebelum Adzan Maghrib. Badan saya belum berhenti bekerja semenjak sepuluh hari yang lalu. Rumah cuma buat terminal. Numpang tidur sama sarapan. Setengah jam itu bukan istirahat saya yang paling nikmat. Tapi itu adalah istirahat yang cukup indah. Bayangkan, setelah seharian bekerja. Apalagi yang paling diinginkan selain tidur.

Woi bangun woi! Sudah adzan maghrib tuh! Jadi pergi nggak? Sebenarnya nggak gitu-gitu amat sih ketika orang tua saya mengingatkan saya. Biar dramatis aja ceritanya. Hehehe. Jiwa-jiwa belum terkumpul. Masih tercecer dimana-mana. Satu persatu saya mulai mengumpulkan dan menyusunnya. Semangat saya untuk pergi sungguh membantu metabolisme tubuh meningkat.

Setelah selesai memoles diri. Guyur sana-guyur sini. Sholat maghrib. Kami pun berangkat dengan berbatik. Sebenarnya cacing-cacing di perut ini sudah protes semenjak sebelum tidur tadi. Saat ini pun sudah bertambah galak. Ahh, nanti juga dikasih makan malam. Gila! Kepedean amat ya saya! Bodo amat ah. Kalaupun nggak, toh saya masih bisa menahannya.

Dengan berbekal parsel buah dalam keranjang. Kami pergi dengan Kijang si Jago BT (7460 BT). Nggak tau kapan buah itu dibeli, yang penting nggak lenggang kangkung lah! Nggak punya bekal persiapan apapun. Nggak punya konsep pembicaraan. Semua saya serahkan ke Bapak. Saya sudah memulai sepuluh hari lalu. Sekarang giliran orang tua yang berperan.

Sampai juga dirumahnya pukul 19.10. Terlihat kalau mereka sangat mempersiapkan kedatangan kami. Taplak meja teras depan yang diganti. Garis air bekas banjir awal februari lalu tampak sudah dibersihkan. Tanaman yang terawat membuat taman rumahnya tampak asri. Koran-koran tahun lalu pun tertata rapih. Perabotan pecah belah yang biasanya disimpan di kotak harta karun pun dikeluarkan.

Oom, Tante. Kenalin, ini orang tua saya. Itu saja yang saya mulai. Selanjutnya lebih banyak mereka yang berbicara. Sebagian besar dengan bahasa jawa. Lucu juga kalau melihat mukanya yang kebingungan karena nggak ngerti bahasa Jawa. Maklum saja, orang tuanya Riau dan Ponorogo. Bahasa utama di rumahpun bahasa indonesia. Saya maklum akan hal itu.

Sambil disuguhi setumpuk Risoles dan Roti dari Majestyk Pondok Bambu. (Tuh kan, bener-bener dipersiapkan!) Kami diperkenalkan dengan penghuni rumahnya. Kalau saya sih sudah kenal semuanya. Hehehe. Dimulai sepupunya, adik sepupunya dan terakhir adik kandungnya. Cuma satu pegawai yang biasa bekerja dirumahnya yang tidak keluar kamar.

Perbincangan pun menghangat sampai akhirnya kamipun di tawari makan malam. Oseng-oseng tempe pedas, ayam goreng, mihun campur (isi bakso, ayam dan lainnya), gulai ikan aceh, lengkap dengan kerupuk karak (legendar nama lainnya) khas dari jawa. Pertama kalinya saya melihat isi meja makannya selengkap ini yang juga pertama kalinya ditata dalam wadah pecah belah bukan piring biasa. Pertama kalinya juga saya melihat keenam tempat duduk makan yang terbuat dari marmer itu terisi penuh. Terlihat sekali kalau mereka sangat menghargai kedatangan kami. Botol sambal dan toples tidak penting pun tidak terlihat di atas meja makan putar itu. Yang ada hanya makanan yang tertata rapih, enam piring berbentuk daun, enam alas piring bergambar semangka, enam gelas kristal, dan enam pasang sendok garpu. Semuanya sempurna.

Makan malam pun selesai. Alhamdulillah, cacing-cacingku sudah kembali tidur. Kami kembali ke ruang tamu. Berbincang lagi. Rasanya tidak sabar hati ini. Kapan sih, si Bapak akan mengutarakan keinginan saya. Ingin hati ini mengucap sendiri saja. Tapi saya masih menunggu. Bapak sudah mengerti maksud saya.

Perbincangan serius pun dimulai. Suasana mendadak hening. Yang terdengar hanya suara Bapakku. Bukan! Bukan mengutarakan keinginanku untuk menikah. Gubrak!Ya, semula saya juga menyangka beliau akan straight to the point. Bukan orang jawa kalau tidak dimulai dengan intro yang panjaaaaaaang. Ya, ya, ya. Nggak bisa digeneralisir kalau semua orang Jawa seperti itu. Tapi orang tua saya masih termasuk dalam lingkungan stereotipe seperti itu. Sejauh pengamatan saya lho!

“Maksud tujuan kami adalah, ingin tahu keadaan Bapak, Ibu. Alhamdulillah tampaknya sehat-sehat saja.” Gubrak! Benar-benar nggak ada hubungannya. “Selain itu juga ingin saling mengenal, menyambung tali silaturahmi.” Naah, kalau yang ini masih mending ada korelasi dengan tujuan utamanya. “Dan, yang kedua.” Kayanya ini sudah alasan yang ketiga deh. “Kita sudah sama-sama tahu, kalau anak-anak kita sudah lama saling mengenal. Bahkan sudah sejak SMA. Kalau Bapak, dan ibu mengizinkan, kami ingin mengutarakan maksud kami untuk menikahkan anak saya dengan anak Bapak, dan Ibu.” Kurang lebih seperti itu dalam bentuk ringkasnya. Akhirnya, setelah berputar-putar kurang lebih sepuluh menit lamanya. Sampai juga pada tujuan utama.

“Pada prinsipnya kami senang, tapi semua tergantung dari si anak. Percuma kalau orang tuanya setuju tapi kalau anaknya tidak. Tapi pada prinsipnya kami merestui.” Ahhhhhhhh. Rasanya badan ini ingin memerosotkan diri dari kursi, dan langsung telentang meregangkan badan. Alhamdulillah, lamaran kami direstui. Tanya-tanya anaknya, yaaah, dia cuma jawab “Pikir-pikir dulu deh”. So Romantic! Meskipun akhirnya mengucap kata “Iya, InsyaAllah!”


Setelah seharian bekerja. Hari ini bisa saya akhiri dengan tersenyum.

Quote of the day:

“Hidup itu nggak mudah, tapi juga nggak susah. Ngapain sih dibuat repot. Selama bisa diakhiri dengan senyum, hidup itu indah kok!”

(Februari 2007, Ulil Nurasatya)


Aksi

Information

6 responses

28 02 2007
Prima

🙂
sweet…
I thank you for everything…especially for the story that u’ve made and you share to the rest of the audiences.
Well, Getting Married is not as easy as turning both hands though. It needs to get through lots of process. So here we are, walking hand in hand, enjoying every steps we make, and praying for the best result.
We try our best and let Alloh do the rest.

PS: The good news is..” Hey, Honey!! Yes you CAN WRITE a story😀 Enjoyable to read. It was like reading a novel. Stunning!”

28 02 2007
Ulil

Waah senangnya. jarang-jarang nerima pujian dari orang yang menang lomba menulis cerita pendek “Mendengar Mata” nih. Secara aku nggak pernah mampu untuk bercerita sampai selesai. Selalu kepentok dijudul,🙂. Kalau cerita sesuatupun nggak pernah ada klimaksnya. Apalagi menulis. Lagian bukan akunya lagi yang pandai bercerita kok. Tapi memang ceritanya sendiri sudah bagus. Hehe. Thanx for all ur support.

28 02 2007
mima

eng ing eng. gw sekarang total fans berat blog ini! hehe.
wit, lo emang bisa nulis kog! kali-kali liat blog gw juga dong. tapi maap, banyak bahasa planetnya, just for a reminder (http://juliamima.multiply.com)
selamat sekali lagi buat kalian berdua!
tetep sabar jalanin masa penantian sebelum hari H yah, masih banyak yang harus dipersiapkan!
prima, or wiwit, kalo butuh tips en trik… come to mama… eh salah, come to mima! hihi

luy ya guys!

mima

28 02 2007
Ulil

mama! eh mima. Gw dah pernah kok jalan2 ke blog lu. Tapi sayang mim. Yang gw bisa cuma bahasa bumi. Jadi banyak nggak ngertinya. Hehe. Jadinya gw pulang lagi deh. Tips and trick apaan nih. Hati-hati looo, kemarin pemeran video p***o dari kediri abis ketangkep.😛. hehehe

1 03 2007
aToEn

hai…hai…
wahh lama gak berkunjung ke blog ini, gak taunya ada cerita baru…heee
maklum, dengan posisi komputer yg menghadap jelas dr pintu bos membuat gw gak bs lagi seenak jidat buka2 situs selain http://www.eng.ui.ac.id atau pun https://academic.ui.edu (hueekkk!! mau muntah gw ngomongin dua situs ini.)
pernah suatu ketika pengen coba buka2. hasrat hati sih pengen maen ym.
lirik kanan-kiri, si bos lagi anteng di depan laptopnye. itu artinye dia lagi nyiapin bahan buat kuliah atawa seminar. aman. buka ah!
semenit..dua menit..masih aman.
belom berasa lima menit, tau-tau dia udah treak-treak dr dalem ruangannya “tuuunnn…faxin ini…” siaL! itu artinya dah dr semenit yg lalu dia merhatiin gw dr balik kaca ruangannya.
yah itulah, segelintir cerita dr cewek yg dibilang “sekretaris” bukan, “personal assistant” apalagi…mungkin “general affairs” lebih tepat kali ye alias “KACUNG” hehehe
begitulah knp gw ilang dr peredaran ym dan dunia maya lainnya.
sungguh ironis!
aniwei…spt yg mima dah bilang. lo emng penulis yg TOP deh wit!
salah gw. gak cuma lo. prima juga! mknya, kalian b2 tuh pasangan yg TOP.
sm2 a good writer. or it’s because of a good story…??? heee
apapun itu. gw yakin, even ceritanya biasa2 aja. pasti akan jd sst yg luarrr biasa kalo kalian yg membuatnya.
so, keep telling us a story, ok? we do like your blog!
and now i proudly pronounce that i am one of your biggest blog Fans!
–after mima sih kyknya…hihihihi–
inget kan tulisan gw ttg “TREND atau GENGSI” ? siapa lagi coba kalo bukan terinspirasi dr lo b2 ? hehehe
mencoba mengkritisi aja awalnya…:p gak taunya keterusan.
oya, tentang acara perkenalan keluarga itu, kyk naik “kora-kora” yah (gw ganti istilahnya…hohoho) abis “tegang” diawal tapi “menyenangkan” akhirannya. betulkan?
i’m happy to hear that! happy for both of you.
well, cerita hidup kalian gak cuma berenti sampai acara itu. masih banyak lagi yg akan kalian hadapi.
so, keep writing a story, ok?

p.s : doa gw as your blog’s apperentice…hehe
moga2 lancar sampai ke pelaminan. moga2 ke depannya, Alloh swt
masih nyiapin hadiah2 terbaik buat hidup kalian. amin!

5 03 2007
Ulil

Bwahahaha. (meniru chattingan lo tun). Cara gampang biar boz nggak tau. Matiin aja monitornya tun. Main filling aja. Bwahahaha. Trus biar lo tau boz lagi ngawasin apa enggak, coba pasang spion aja. Bwahaha. Makasih banyak buat doanya ya tun. Mudah-mudahan semua yang kita cita-citakan dapat berjalan lancar
Amin.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: